Kamis, 21 Januari 2010

LAUNCHING PASAR IKAN & RESTO DAN TPI PPN PALABUHANRATU







Di PPN Palabuhanratu, sejak awal bulan Januari 2010 telah berdiri Gedung Megah, Baru dan Bersih 2 lantai yang diperuntukan sebagai Pasar Ikan Segar dan Restorasi Penyaji Ikan Bakar seluas 713 M2, yang mengacu kepada sistem kebersihan dan kenyamanan sekitarnya.

Tepatnya hari Rabu tanggal 20 Januari 2010 pukul 10.35 wib yang beralamat di Jl Siliwangi Palabuhanratu Kab. Sukabumi telah dilakukan Launching Pasar Ikan & Resto dan TPI oleh Bapak. Prof. DR. Martani Huseini ( Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan/P2HP) yang dihadiri Asda 4, Dinas Perikanan Prop. Jabar, Kapolres, Dandim dan Ketua DPRD Kab Sukabumi. Kemudian dilanjutkan penanda tanganan Nota Kesepakatan Bersama antara Kepala PPN Palabuhanratu ( Ir. Arief Rahman Lamatta, MM ) dengan Koperasi Karyawan Mina Nusantara sebagai Pengelola untuk Pemanfaatan Gedung Pasar Ikan dan Restorasi di Palabuhanratu

Senin, 11 Januari 2010

SUDAHKAH ANDA TAHU?? Ikan Nilem (Osteochilus hasselti Val.) di Danau Mooat Sulawesi Utara





Ikan nilem atau Silver Shark minnow Familia Cyprinidae, Genus Osteochilus, Species Osteochilus hasselti (Val) mempunyai ciri morfologi antara lain adalah mempunyai 12-18,5 jari-jari bercabang pada sirip punggung, bibir tertutup oleh lipatan kulit, mempunyai 5,5 sisik di antara sirip punggung pertama dengan linea lateralis, mempunyai bulatan warna hitam pada pangkal ekornya. Perairan Danau Mooat Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara saat ini didominasi ikan-ikan introduksi, salah satu ikan introduksi tersebutadalah ikan nilem. Populasi ikan nilem di perairan Danau Mooat sangat banyak, ikan tersebut mendominasi hasil tangkapan nelayan. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan nilem umumnya adalah jaring insang. Ikan nilem di Danau Mooat hidup di daerah pinggiran danau atau bagian litoral danau. Berdasarkan penelitian tahun 2009, Populasi ikan nilem jantan cendrung lebih banyak dibandingkan ikan nilem betina, keadaan tersebut menunjukan populasinya di alam tidak seimbang antara jantan dan betina (2:1). Berdasarkan Tingkat Kematangan Gonad, TKG IV mendominasi pada bulan Mei. Ukuran panjang ikan rata rata pada saat pertama kali matang gonad ikan nilem betina pertama matang gonad pada ukuran 5,5 cm. Ukuran ikan nilem pertama matang gonad di Danau Mooat tergolong kecil, biasanya ikan nilem mulai matang gonad ukurannya di atas 10 cm, hal tersebut dimungkinkan karena adanya perbedaan lingkungan dan juga faktor genetik. Fekunditas atau jumlah telur ikan nilem berkisar antara 296 butir hingga 9408 butir, dengan kisaran panjang total ilkan antara 7,2-15 cm dan kisaran bobot tubuh antara 5,1-25,9 g. Pola pertumbuhan ikan nilem bervariasi, umumnya berpola allometrik namun pada bulan Mei pola pertumbuhannya isometrik. Berdasarkan analisis frekuensi kejadiannya,ikan nilem merupakan jenis ikan pemakan plankton atau plankton feeder, walaupun pada pengamatan saluran pencernaan bulan Mei terdapat sisik ikan, sebagian besar isi saluran pencernaan ikan nilem adalah plankton. Ikan nilem sering dijadikan ikan untuk introduksi atau restocking pada perairan danau dan waduk, karena ikan ini dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan baru dan dapat berkembang biak cukup cepat. Secara ekonomis ikan nilem di Danau Mooat merupakan ikan konsumsi namun harganya masih di bawah harga ikan mas dan ikan nila.

Minggu, 22 November 2009

PROFIL PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU

Pelabuhan perikanan saat ini semakin menarik bagi investor untuk dijadikan basis dalam pengembangan industry perikanan karena berbagai alasan yakni pertama, investor semakin sulit memperoleh tanah yang bebas masalah diluar kawasan pelabuhan sehingga areal industry perikanan dikawasan pelabuhan semakin diminati, kedua sesuai dengan ayat 3 pasal 41 UU No. 31 tahun 2004 tentang perikanan yang menghapuskan setiap kapal penangkapan ikan dan kapal pengangkut ikan untuk mendaratkan ikan tangkapan di pelabuhan perikanan, ketiga adanya kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan bahwa kapal-kapal asing dilarang melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia kecuali kapal-kapal asing harus berpangkalan, mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia dan membuka industry perikanan di Indonesia dan keempat semakin banyak kemudahan yang diberikan kepada investor dipaelabuhan mulai dari pelayan prima sampai kepada murahnya tariff dalam memanfaatkan fasilitas pelabuhan.
Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu(PPN Palabuhanratu) adalah salah satu pelabuhan perikanan yang dibangun pemerintah pusat guna menunjang aktivitas perikanan yang memfanfaatkan sumberdaya ikan yang ada di wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 9 Samudra Hindia, melayani kapal-kapal yang sedang melakukan operasi penangkapanikan di daerah penangkapan ikan (fishingground)dengan menyampaikan informasi yang diperlukan oleh nelayan, seperti informasi mengenai prakiran potensi daerah penangkapan ikan, harga ikan, kondisi cuaca melalui radio komunikasi atau alat elektronik lainnya, melakukan pelayanan terhadap kapal-kapal perikanan baik untuk keberangkapan maupun pada saat kedatangan dan saat berada di pelabuhan, memfasilitasi kegiatan pengelolaan ikan guna mempertahankan mutu ikan yang didaratkan.
Sehingga layak dikonsumsi, memfasilitasi kegiatan pemasaran ikan sehingga memperoleh harga yang wajar melalui kegiatan pelelangan ikan. Selain itu fungsi PPN Palabuhanratu adalah untuk memperlancar kegiatan distribusi ikan kedaerah konsumen, melakukan pembinaan terhadap masyarakat perikanan melalui pelatihan-pelatihan dan pembinaan usaha nelayan.
Semuatugas yang dilakukan oleh PPN Palabuhanratu tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, efesiensi dan pertumbuahan usaha perikanan guna meningkatkan pendapatan nelayan dan kesejahteraannya, meningkatkan penerimaan dan devisa, mendorong perluasan dan kesempatan kerja, meningkatkan ketersediaanmutu, nilai, daya saing dan kunsumsisumebr protein ikan mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya ikan dan meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk industry pengelolaan ikan serta melakukan pengendalian dan pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan seperti kegiatan statistic perikanan dan pemeriksaan dokumen kapal perikanan.
PPN Palabuhanratumulai dioperasionalkan pada tahun 1993. Sejak pengembangannya pada periode 1993-2008, PPN Palabuhanratu telah mengalami dua tahappembangunan, yaitu pembangunan tahap pertama pada tahun 1993 dan beroperasi sampai dengan tahun 2002, kemudian pembangunan tahap kedua selama periode 2003-2005, yang merupakan pengembangan pembangunan tahap pertama. Pembangunan pelabuhan perikanan tahap pertama ditujukan untuk menunjang aktivitas perikanan terutama untuk penangkapan ikan dengan ukuran kapal sampai 30 GT dan pembangunan pelabuhan perikanan tahap kedua untuk menunjang aktivitas kapal berukuran 30 GT sampai dengan 150 GT.
Operasional PPN Palabuhanratu sangat tergantung kepada kondisi fisik pembangunannya dan sejauh mana hubungan tiga komponen didalam konsep triptyque portuaire dalam pengembangan suatu pelabuhan perikanan, tiga komponen tersebut adalah PPN Palabuhanratu, wilayah produksi (foreland) dan wilayah distribusi (hinterland).

SEJARAH PPN PALABUHANRATU

Kawasan Palabuhanratu sebelum tahun 1980 masih merupakan suatu desa nelayan dengan produktivitas produksi rendah serta memiliki tingkat kerawanan social, polotik, dan pertahanan keamanan yang cukup tinnggi. Sedangkan dari segi strategis pertahanan keamanan territorial sangat mendukung terjadi intervensi kewilayah kelautan Republik Indonesia baik dari Negara lain ataupun dari bangsa Indonesia sendiri.
Seperti wilayah Kabupaten Sukabumi lainnya, kawasan ini sebenarnya lebih cenderung bersifat masyarakat agraris (pertanian) walaupun potensi sumberdaya ikan sangat potensial untuk dikembangkan. Melihat konsi para nelayan saat ini sangat direpotkan kebutuhan tempat bongkar, mendaratkan ikan, memasarkan ikan yang layakserta keamanan perahu yang terjamin saat istirahat terhadap hantaman gelombang terutama pada musim barat serta dengan pemikiran adanya potensi perikanan di sekitar Palabuhanratu maka dibangunlah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu.
Dana pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu pada tahap awal bersumber dari APBN, Asian Developmen Bank (ADB) dan Islamic Developmen Bank (ISDB). Pembangunan fisik pelabuhan dilaksanakan pada Tahun Anggaran 1991/1992 sampai dengan Tahun Anggaran 1992/1993 dan pada tanggal 18 Februari 1983 diresmikan operasionalnya oleh Prisiden RI pada saat itu (H.M Soeharto)
Selain dimanfaatkan kapal perikan domisili, segenap fasilitas PPN Palabuhanratu yang telah ditingkatkan melalui dan SPL OECF tahun 1999/2002 juga dimanfaatkan oleh nelayan pendatang (andon) dari cilacap, Benoa, NTB, NTT dan Jakarta. Nelayan andon ini umumunya menggunakan kapal berukuran 30 – 150 Groos Tonage dan menerapkan teknologi penangkapan dengan menggunakan jarring berukuran besar dan pancing Longline dibantu oleh fasilitas yang modern dan maju sehingga diperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan nelayan domisili (nelayan Palabuhanratu) yang hanya menngunakan alat penangkap ikan yang lebih sederhana berupa pancing ulur, pancing rawai, jarring insang, jarring paying dan jarring kecil (rampus).